Makanan Khas Lampung

Posted: November 24, 2010 in Makanan Khas

SERUIT

disebut dengan istilah nyeruit.. yang artinya adalah kegiatan makan yang dilakukan secara bersama-sama dengan hidangan sebagaimana tersebut di atas, yaitu sambol seruit, ikan gabus bakar, lalapan berupa ketimun, labu siam rebus, daun-daunan segar, terong lurik muda yang bulat-bulat, dengan nasi putih yang masih “ngepul” panas. waktu saya nyobain sih emang mantap gitu sih, pedes-pedes nikmat gimana gitu…

Beberapa jenis masakan khas Lampung tersebut diantaranya adalah Seruit….Biasanya masakan khas Lampung ini menggunakan ikan sebagai bahan utamanya….Jenis ikan yang digunakan oleh masyarakat Lampung saat mengolah masakan Seruit antara lain, ikan belide, ikan sungai, ikan baung, dan ikan layis…. Lampung adalah seruit yaitu Makanan khasmasakan ikan digoreng atau dibakar dicampur sambel terasi, tempoyak (olahan durian) atau mangga…  

SAMBAL TEMPOYAK
LAPIS LEGIT

Saya yakin sudah cukup banyak orang yang sudah tau lapis legit ini. Kata teman saya sih, bahan-bahan untuk membuat lapis legit adalah telur, susu, tepung terigu, gula, dan masih beberapa lagi sih yang saya lupa itu,,hhee. Rasa lapis legit ini gak usah ditanya lagi, namanya saja sudah lapis legit, pasti rasanya leeggiittt lah.. Saya sih sudah sering mencobanya, memang benar-benar legit.

Bahan : 10 btr telur 250 gr gula pasir 100 gr mentega ( dilelehkan ) 1 sdt vanili tepung terigu 1 sdm susu bubuk 3 sdm ( bs diganti susu kental manis) cara membuat : kocok mentega,gula,vanili hingga setengah mengembang,masukkan tepung terigu,susu dan mentega,aduk hingga rata.Olesi loyang dengan mentega.Tuang satu sendok sayur keloyang,oven dengan api bawah.setelah agak kecoklatan,tuang satu sendok sayur lagi,oven dengan api atas.Tunggu hingga agak kecoklatan

Gulai Taboh


Gulai Taboh adalah kuliner khas Lampung yang juga dapat diartikan sebagai gulai santan. Gulai ini biasanya berisi khattak atau kacang kacangan seperti kacang/khattak gelinyor, kacang merah/khattak ngisi, kacang panjang/khattak kejung, khattak tuwoh, rebung, kentang dan lain lain.

Gabing


Gabing ialah makanan khas lampung yang terbuat dari batang kelapa muda. wah pasti banyak nih para pembaca yang belum makan atau belum pernah dengar . ya batang kelapa muda tersebut di potong dengan ukuran sedang setelah itu di sayur dengan kuah santan , rasa yang di berikan oleh batang kelapa ini adalah rasa manis dan gurih apa bila di gigit, rasa yang di timbulkan ialah rasa unik dan menarik.

Umbu


Umbu ialah suatu lalapan yang asli dari lampung. lalapan ini bukan berbentuk dedaunan hijau , umbu ialah lalap yang terbuat dari rotan muda yang di rebus hingga lunak . mungkin tebakan kalian makanan ini rasanya mirip dengan gabing? tetapi kenyataannya makanan ini jauh berbeda dengan gabing , umbu lebih cendrung berasa pahit seperti pare , tetapi pahit umbu ini dapat membangkitkan napsu makan loh.

Bahasa

Posted: November 24, 2010 in Bahasa
AKSARA LAMPUNG

Aksara Lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.
Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu, aksara Sunda, dan aksara Lontara. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah Kaganga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.
Aksara lampung telah mengalami perkembangan atau perubahan. Sebelumnya Had Lampung kuno jauh lebih kompleks. Sehingga dilakukan penyempurnaan sampai yang dikenal sekarang. Huruf atau Had Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang adalah hasil dari penyempurnaan tersebut.
Bahasa Lampung, adalah sebuah bahasa yang dipertuturkan oleh Ulun Lampung di Provinsi Lampung, selatan palembang dan pantai barat Banten. Bahasa ini termasuk cabang Sundik, dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia barat dan dengan ini masih dekat berkerabat dengan bahasa Sunda, bahasa Batak, bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Melayu dan sebagainya. Aksara Lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri. Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca.
RAGAM BAHASA

Bahasa Lampung dialek A meliputi Sungkai, Melinting, Pubian, Pesisir, Way Kanan, dan Pemanggilan Jelema Daya, sedangkan Bahasa Lampung dialek O meliputi Abung dan Menggala.
Masyarakat pengguna bahasa Lampung dialek A/Pubian/Api

  • Bahasa Lampung Pubian digunakan oleh etnik Lampung yang ada di sebagian Kabupaten Pesawaran, sebagian Kabupaten Lampung Selatan, sebagian Kabupaten Lampung Tengah, sebagian Kabupaten Tanggamus, dan sebagian Kota Bandar Lampung.
  • Bahasa Lampung Melinting mayoritas digunakan oleh etnik Lampung yang ada di sebagian Kabupaten Lampung Timur.
  • Bahasa Lampung Sungkai mayoritas digunakan oleh etnik Lampung yang ada di Kabupaten Lampung Utara, yang meliputi Kec. Sungkai Selatan (Ketapang) dan Sungkai Utara (Negara Ratu) beserta pemekaran dua kecamatan tersebut.
  • Bahasa Lampung Pemanggilan Jelema Daya digunakan oleh mayoritas etnik yang ada di Muaradua, Martapura, Komering Ilir, serta daerah Kayuagung yang memasuki Prov. Sumatra Selatan.
  • Bahasa Lampung Pesisir digunakan oleh etnik Lampung yang ada di sebagian Kota Bandar Lampung, sebagian Kabupaten Lampung Selatan, sebagian Kabupaten Lampung Barat, sebagian Kabupaten Tanggamus. Bahasa Lampung Pesisir juga banyak digunakan di sekitaran Danau Ranau yang berbatasan dengan Prov. Sumatra Selatan, daerah luar Prov. Lampung lainnya seperti di Cikoneng, Bojong, Salatuhur, dan Tegal.
  • Bahasa Lampung Way Kanan mayoritas digunakan oleh etnik Lampung yang ada di Kabupaten Way Kanan.
Masyarakat pengguna bahasa Lampung dialek O/Abung/Nyow

  • Bahasa Lampung Abung digunakan oleh etnik Lampung yang ada di sebagian Kota Bandar Lampung, sebagian Kabupaten Lampung Selatan, Sebagaian Kabupaten Lampung Tengah, Sebagian Kabupaten Lampung Utara, sebagian Kabupaten Lampung Timur, dan sebagian Kota Metro.
  • Bahasa Lampung Menggala atau bahasa Lampung Tulangbawang mayoritas digunakan oleh etnik Lampung yang ada di Kabupaten Tulang Bawang.

Pariwisata

Posted: November 24, 2010 in Pariwisata

MONUMEN KRAKATAU

Monumen peringatan meletusnya Gunung Krakatau ini terletak di Jl. W.R. Supratman Telukbetung menempati lokasi Taman Dipangga. Monumen ini berupa sebuah rambu laut seberat setengah ton yang terlempar akibat gelombang pasang Tsunami setinggi 40 meter yang ditimbulkan oleh letusan Krakatau tahun 1883. Kala itu tempat / taman tersebut merupakan bagian dari lokasi kantor Residen Lampung. Dua pohon beringin dan ambon menaungi monuman tersebut dengan latar belakang suasana pusat kota Teluk Betung.

TAMAN SATWA DAN WISATA BUMI KEDATON

Nuansa hijau perkampungan dengan panorama perbukitan, terletak di Kampung Batu Putuk Teluk Betung Bandar Lampung atau sekitar 20 menit dari pusat kota. Kawasan ini terkenal sebagai penghasil buah-buahan segar seperti durian, manggis, duku, pisang dan palawija. Tersedia fasilitas rekreasi keluarga, rumah khas Lampung bertiang, cottages, kolam renang, lahan berkemah di bagian utara pada sisi sungai yang mengalir berasal dari lereng Gunung Betung, pondok-pondok bersantai serta fasilitas lainnya. Arena atraksi gajah, paket naik gajah, naik kereta gajah, paket khusus tracking gajah demikian pula aktivitas berkuda, kereta kuda, jembatan gantung, rute jogging, mandi di kali yang berair jernih, melihat koleksi satwa dan tanaman langka. Tersedia vendor ikan bakar segar, pemancingan, canoeing dan bersampan di sungai melengkapi kunjungan anda.

LEMBAH HIJAU

Kawasan ini terletak daerah Sukadanaham (Tanjung Karang Barat) yang berjarak hanya 2 km dari pusat kota Bandar Lampung. Resort Wisata Keluarga dengan suasana alam yang sejuk dan asri, cottage, café, fasilitas dan sarana umum, merupakan tempat yang cocok untuk acara liburan bersama keluarga. Daya tarik tempat ini diantaranya adalah arena bermain anak-anak, kolam renang water boom, taman agro holtikultura, aquarium, pemancingan dan arena out bound. Koleksi binatang seperti kuda, unta, burung, siamang dan rusa melengkapi suasana taman rekreasi ini.

CITRA GARDEN

Taman rekreasi ini berada dalam lingkungan perumahan Citra garden, namun terbuka juga untuk umum. Dengan lama perjalanan sekitar 10 menit dari pusat kota teluk betung, disana kita bisa menikamati suasana alam perbukitan kolam renang waterboom, arena permainan air dan cafe yang sangat cocok untuk liburan bersama keluarga.

TAMAN KUPU-KUPU GITA PERSADA

Taman Kupu-kupu Gita Persada merupakan tempat rekreasi sekaligus sarana belajar. Terletak di desa Tanjung Manis kawasan hutan kota Gunung Betung, lokasi Taman Kupu-kupu ini ± 5 km lebih kurang 25 menit dari pusat kota ke arah barat dalam sebuah lembah dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut yang dikelilingi bukit-bukit hijau. Dengan luas kawasan sekitar 4 ha, di taman ini kita bisa mengenal dan mempelajari keanekaragaman jenis kupu-kupu khas Sumatera, baik yang ada dalam penangkaran maupun yang beterbangan dilingkungan yang masih alami.

AIR TERJUN BATU PUTUK

Air terjun ini terletak sebuah lembah aliran sungai Way Belau di Kecamatan Teluk Betung Utara  Kelurahan Batu Putuk, dengan luas wilayah 313 ha memiliki fungsi sebagai Kawasan Hutan Lindung/ Konservasi. Untuk menuju air terjun ini diperlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat kota Telukbetung. Selain potensi panorama alam  berlatar belakang air terjun yang indah, disekitar obyek wisata ini terdapat perkebunan durian dan coklat (Kakao). Dalam kawasan ini juga kita bisa berkemah, trekking, hiking dan menikmati pemandangan Teluk Lampung dari atas lembah. Fasilitas umum yang terdapat di atas lembah berupa Mushala, Kantin, Tempat Istirahat, Lahan Parkir, kamar kecil (WC), dan jalan setapak menuju ke lokasi air terjun.

PANTAI DUTA WISATA

Taman Rekreasi Pantai Duta Wisata berlokasi di Jl. RE Martadinata km 5 arah Lempasing, Desa Sukamaju, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung. Fasilitas: Saung dan Pondok Santai, Kids Playground, Kereta dan Mobilan, Sepeda Air dan Kano, Trampolin Air, Jetski dan Banana Boat, Lagoon, dan tempat pertemuan. Hubungi 0721 470 977 atau 0811 88 5280

MUSEUM NEGERI RUWA JURAI

Museum Lampung adalah salah satu tempat kunjungan wisata sejarah yang dapat digunakan sebagai sarana pendidikan, penelitian dan rekreasi. Terletak dijalan Z.A. Pagaralam 5 Kilometer disebelah utara pusat kota Tanjungkarang dan hanya 400 meter dari terminal bus Rajabasa dan Komplek Perguruan Tinggi Negeri Universitas Lampung. Koleksi yang dapat dijumpai adalah benda-benda hasil karya seni, keramik dari Negeri Siam dan China pada zaman Dinasti Ming, stempel dan mata uang kuno pada masa penjajahan Belanda dll. Koleksi-koleksi tersebut berjumlah 4.652 buah meliputi benda-benda Geologika 71 buah, Biologika 89 buah, Etnografika 2.040 buah, Arkeologika 311 buah, Historika 55 buah, Numismatika/Heraldika 1.347 buah, Filogika 44 buah, Keramologika 666 buah, Seni Rupa 8 buah dan Teknologika 23 buah. Koleksi istimewa/ langka yang dimiliki berupa Bejana Perunggu, ditemukan di Sri Minosari Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur.

WISATA ZIARAH

Mesjid Al-Anwar. Terletak di Jalan R.E. Martadinata Telukbetung daerah Kampung Palembang. Mesjid tua ini dahulunya berupa surau, didirikan pada tahun 1839. Dalam perjalanan sejarah letusan Krakatau tahun 1883, surau ini luluh lantak dan direnovasi menjadi bangunan mesjid pada tahun 1888 dan diberi nama Mesjid Jami’ Persegi. Terdapat enam pilar utama sebagai perlambang rukun iman dan dua buah meriam peninggalan Portugis.

Mesjid Al-Yaqin. Mesjid ini terletak di Jalan Radin Intan bersebrangan dengan BRI. Aslinya mesjid ini terletak di dekat Pos Polisi Pasar Bawah. Dibangun pada tahun 1883 oleh masyarakat pendatang dari Bengkulu. Pada masa kolonial pernah mengalami kerusakan pada bagian muka. Setelah diperbaharui, namun tetap mempertahankan bentuk asli, ornamen khas dengan pahatan-pahatan kaligrafi.

Vihara Thay Hin Bio. Terletak di Jalan Ikan Kakap Telukbetung. Vihara ini didirikan pada tahun 1896 atas keinginan masyarakat Lampung Cina, dengan nama Vihara Kuan Im Thing sebagai Vihara untuk memohon perlindungan Kuan Im Pho Sat yang maha pengasih dan penyayang. Dalam perjalanannya, vihara ini dibangun dan diperluas kemudian mengganti nama menjadi Vihara Thay Hin Bio sampai dengan saat ini.

Gereja Marturia. Terletak di Jalan Imam Bonjol (Pasar Bambu Kuning Tanjungkarang). Gereja ini dibangun pada zaman kolonial Belanda dan pada masa sekarang ini telah direnovasi tanpa mengubah bentuk aslinya.

Pakaian Adat

Posted: November 24, 2010 in Pakaian Adat

Beberapa Busana yang dikenakan oleh penari perempuan dalam budaya lampung adalah:

  1. kain tapis;
  2. kebaya panjang warna putih;
  3. siger;
  4. gelang burung;
  5. gelang ruwi;
  6. kalung papan jajar;
  7. buah jarum;
  8. bulu seratai;
  9. tanggai;
  10. peneken;
  11. anting-anting; dan
  12. kaos kaki warna putih.

Sedangkan busana dan perlengkapan pada penari laki-laki dalam budaya lampung adalah:

  1. kain tipis setengah tiang;
  2. bulu seratai;
  3. ikat pandan;
  4. jubah; dan
  5. baju sebelah.

Alat Musik

Posted: November 24, 2010 in Alat Musik

Peralatan musik yang yang biasa digunakan dalam budaya lampung diantaranya adalah:

  1. canang lunik 8–12 buah;
  2. bende sebuah;
  3. gujeh sebuah;
  4. gong 2 buah;
  5. gendang sebuah; dan
  6. pepetuk 2 buah.

Alat-alat musik tersebut biasanya digunakan untuk mengiringi tari Canget

Tarian

Posted: November 24, 2010 in Tarian

Tari Cangget

Konon, sebelum tahun 1942 atau sebelum kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia, tari cangget selalu ditampilkan pada setiap upacara yang berhubungan dengan gawi adat, seperti: upacara mendirikan rumah, panen raya, dan mengantar orang yang akan pergi menunaikan ibadah haji. Pada saat itu orang-orang akan berkumpul, baik tua, muda, laki-laki maupun perempuan dengan tujuan selain untuk mengikuti upacara, juga berkenalan dengan sesamanya. Jadi, pada waktu itu tari cangget dimainkan oleh para pemuda dan pemudi pada suatu desa atau kampung dan bukan oleh penari-penari khusus yang memang menggeluti seni tari tersebut.

Waktu itu para orangtua biasanya memperhatikan dan menilai gerak-gerik mereka dalam membawakan tariannya. Kegiatan seperti itu oleh orang Lampung disebut dengan nindai. Tujuannya tidak hanya sekedar melihat gerak-gerik pemuda atau pemudi ketika sedang menarikan tari cangget, melainkan juga untuk melihat kehalusan budi, ketangkasan dan keindahan ketika mereka berdandan dan mengenakan pakaian adat Lampung. Bagi para pemuda dan atau pemudi itu sendiri kesempatan tersebut dapat dijadikan sebagai arena pencarian jodoh. Dan, jika ada yang saling tertarik dan orang tuanya setuju, maka mereka meneruskan ke jenjang perkawinan.

Macam-macam Tari Cangget dan Gerakannya

Tarian cangget yang menjadi ciri khas orang Lampung ini sebenarnya terdiri dari beberapa macam, yaitu:

Cengget Nyambuk Temui, adalah tarian yang dibawakan oleh para pemuda dan pemudi dalam upacara menyambut tamu agung yang berkunjung ke daerahnya.

Cangget Bakha, adalah tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudi pada saat bulat purnama atau setelah selesai panen (pada saat upacara panen raya).

Cangget Penganggik, adalah tarian yang dimainkan oleh pemuda dan pemudi saat mereka menerima anggota baru. Yang dimaksud sebagai anggota baru adalah pada pemuda dan atau pemudi yang telah berubah statusnya dari kanak-kanak menjadi dewasa. Perubahan status ini terjadi setelah mereka melalukan upacara busepei (kikir gigi).

Cangget Pilangan, adalah tarian yang dimainkan oleh para pemuda dan pemudi pada saat mereka melepas salah seorang anggotanya yang akan menikah dan pergi ke luar dari desa, mengikuti isteri atau suaminya.

Cangget Agung adalah tarian yang dimainkan oleh para pemuda dan pemudi pada saat ada upacara adat pengangkatan seseorang menjadi Kepala Adat (Cacak Pepadun). Pada saat upacara pengangkatan ini, apabila Si Kepala Adat mempunyai seorang anak gadis, maka gadis tersebut akan diikutsertakan dalam tarian cangget agung dan setelah itu ia pun akan dianugerahi gelar Inten, Pujian, Indoman atau Dalom Batin.

 

Walau tarian cangget terdiri dari beberapa macam, namun tarian ini pada dasarnya mempunyai gerakan-gerakan yang relatif sama, yaitu: (1) gerak sembah (sebagai pengungkapan rasa hormat); (2) gerakan knui melayang (lambang keagungan); (3) gerak igel (lambang keperkasaan); (4) gerak ngetir (lambang keteguhan dan kesucian hati; (5) gerak rebah pohon (lambang kelembutan hati); (6) gerak jajak/pincak (lambang kesiagaan dalam menghadapi mara bahaya); dan (7) gerak knui tabang (lambang rasa percaya diri).

Lampung

Posted: November 24, 2010 in Tentang Lampung

Provinsi Lampung memiliki luas 35.376,50 km² dan terletak di antara 105°45′-103°48′ BT dan 3°45′-6°45′ LS. Daerah ini di sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda dan di sebelah timur dengan Laut Jawa.

Masyarakat Lampung yang plural menggunakan berbagai bahasa, antara lain bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bali, bahasa Minang, dan bahasa setempat yang disebut bahasa Lampung.

Kabupaten dan Kota di Lampung

No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Lampung Barat Kota Liwa
2 Kabupaten Lampung Selatan Kalianda (kota)
3 Kabupaten Lampung Tengah Gunung Sugih
4 Kabupaten Lampung Timur Sukadana
5 Kabupaten Lampung Utara Kotabumi
6 Kabupaten Mesuji -
7 Kabupaten Pesawaran Gedong Tataan
8 Kabupaten Pringsewu -
9 Kabupaten Tanggamus Kota Agung
10 Kabupaten Tulang Bawang Menggala
11 Kabupaten Tulang Bawang Barat Tulang Bawang Tengah
12 Kabupaten Way Kanan Blambangan Umpu
13 Kota Bandar Lampung -
14 Kota Metro -

Sejarah Lampung dimulai sejak Zaman Hindu Animis yang berlangsung sampai dengan awal abad ke XVI. Sistem kebudayaan yang berasal dari luar termasuk Hindu dan Budha, turut mewarnai tetapi yang dominan adalah tradisi asli dari zaman Malayo –Polynesia. Daerah Lampung telah lama dikenal orang luar pada permulaan tahun masehi sebagai tempat orang-orang lautan mencari hasil hutan, terbukti dengan diketemukannya berbagai bahan keramik dari zaman Han (206 – 220 SM) dan akhir zaman Han (abad ke II s.d. ke VII) juga di zaman Ming (1368 – 1643).

Menurut berita dari negeri China (china cronicle) abad ke VII, dikatakan bahwa di daerah selatan (Namphang) terdapat kerajaan yang di sebut Tolang p’ohwang (to=orang;Lang P’ohwang = Lampung).

Penemuan peninggalan – penemuan sejarah atau budaya dalam bentuk patung-patung, pahatan bercorak megalitik terdapat  disekitar Purawiwitan, Sumberjaya, Kenali, Batubedil dan Kecamatan Jabung.

Pada daerah-daerah tertentu terdapat peninggalan yang menunjukan bahwa Lampung berada di bawah Kerjaan maritim terbesar kala itu, Kerajaan Sriwijaya. Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Batu Bedil di daerah Tanggamus merupakan peninggalan Kerajaan Sri Wijaya pada sekitar abad VIII. Kerajaan-kerajaan Tulang Bawang dan Skala Brak diduga pernah berdiri pada sekitar abad VII – VIII. Pusat Kerajaan Tulang Bawang diperkirakan disekitar Menggala/ Sungai Tulang Bawang sampai Pagar Dewa.

Zaman Islam di tandai dengan masuknya pegaruh Banten di Lampung pada abad XVI, terutama saat bertahtanya Sultan Hasanuddin (1522 – 1570). Pada masa ini ( abad ke XVII), Lampung melahirkan Pahlawan yang terkenal gigih menentang penjajah Belanda, bernama Radin Intan. Pengaruh Islam terlihat diantaranya dari adanya Tambra Prasasti (Buk dalung) di daerah Bojong Kecamatan Jabung sekarang, berisi perjanjian kerjasama antara Banten dan Lampung dalam menghadapi penjajah Belanda.

Pendapat lain menyatakan bahwa masuknya agama Islam yang pertama kali adalah dari Sumatera Barat pada abad XIV sampai XV. Sebelum Islam masuk penduduk menganut Hindu Budha dan pemujaan ruh nenek moyang dan Sinkretisme.

Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.

Putra mahkota Banten, Sultan Haji, menyerahkan beberapa wilayah kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa kepada Belanda. Di dalamnya termasuk Lampung sebagai hadiah bagi Belanda karena membantu melawan Sultan Ageng Tirtayasa.

Permintaan itu termuat dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat bertanggal 12 Maret 1682 itu isinya, Saya minta tolong, nanti daerah Tirtayasa dan negeri-negeri yang menghasilkan lada seperti Lampung dan tanah-tanah lainnya sebagaimana diinginkan Mayor/ Kapten Moor, akan segera serahkan kepada kompeni.

Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung.

Akan tetapi, upaya menguasai pasar lada hitam Lampung kurang memperoleh sambutan baik. Pada 21 November 1682 VOC kembali ke pulau Jawa hanya membawa 744.188 ton lada hitam seharga 62.292,312 gulden.

Dari angka itu dapat disimpulkan bahwa Lampung kala itu dikenal sebagai penghasil lada hitam utama. Lada hitam pula yang mengilhami berbagai negara Eropa ambil bagian dalam konstelasi politik Nusantara kala itu. Penguasaan sumber rempah-rempah dunia berarti menguasai perdagangan dunia-dan tentu saja wilayah.

Kejayaan Lampung sebagai sumber lada hitam pun mengilhami para senimannya sehingga tercipta lagu Tanoh Lada. Bahkan, ketika Lampung diresmikan menjadi provinsi pada 18 Maret 1964, lada hitam menjadi salah satu bagian lambang daerah itu. Namun, sayang saat ini kejayaan tersebut telah pudar.